Ekologi Tumbuhan
BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Didalam
lingkungan terjadi interaksi antara yang luas dengan yang kompleks. Ini
menunjukkan semua organisme yang hidup sendiri melainkan harus saling
berinteraksi baik dengan alam (lingkungan) maupun dengan makhluk hidup lainnya.
Organisme hidup dalam sebuah sistem yang ditopang oleh berbagai komponen yang
saling berhubungan dan saling berpengaruh, baik secara langsung maupun tidak
langsung. Kehidupan semua jenis makhluk hidup saling mempengaruhi, saling
berinteraksi dengan alam membentuk kesatuan disebut ekosistem. Ekosistem juga
menunjukkan adanya interaksi antara makhluk hidup (Biotik) dengan alam
(Abiotik).
Ekosistem merupakan satu kesatuan
fungsional yang didalamnya mengalir energi dan makanan antara lingkungan fisik abiotik
dengan lingkungan biotik. Lingkungan biotik dan lingkungan abiotik secara
terus-menerus memiliki dampak terhadap satu dan lainnya. Sehingga menghasilkan suatu
hubungan ketergantungan yang kompleks. Hal tersebut dapat menciptakan
keseimbangan alam dalam kehidupan dan adanya suatu faktor dapat menyebabkan
ketergantungan keseimbangan ekosistem itu akan mengalami perubahan juga.
Fungsi ekosistem yaitu menggambarkan
hubungan sebab akibat yang terjadi dalam sistem. Berdasakan struktur dan
fungsinya ekosistem maka perlu pemahaman lebih luas dan harus didukung oleh
pengetahuan yang relevan dalam kehidupan. Cabang ilmu biologi yang mempelajari
tentang ekosistem adalah ekologi, ekologi berasal dari bahasa yunani yaitu
oikos yang artinya rumah atau tempat hidup, dan logos yang berarti ilmu.
Ekologi diartikan sebagai ilmu yang mempelajari interaksi antara makhluk hidup
dengan lingkungannya. Dalam ekologi kita akan tahu bahwa makhluk hidup sebagai
satu kesatuan atau sistem dengan lingkungannya.
Pembahasan ekologi tidak lepas dari
pembahasan ekosistem dengan berbagai faktor penyusunnya yaitu faktor abiotik
dan biotik. Faktor abiotik antara lain suhu, kelembaban udara, arah angin,
intensitas cahaya, pH tanah, dan tinggi serasah. Faktor biotik adalah faktor
hidup yaitu terdiri dari manusia, hewan, tumbuhan dan mikroba. Ekologi juga
berhubungan erat dengan tingkatan-tingkatan organisasi makhluk hidup yaitu
populasi, komunitas, dan ekosistem yang saling mempengaruhi dan merupakan suatu
sistem yang menunjukkan kesatuan yang kompleks.
Ruang lingkup ekologi yang utama,
yaitu perubahan populasi suatu spesies pada waktu yang berbeda-beda,
perpindahan yang lain, serta faktor yang mempengaruhinya dan terjadi hubungan
timbal balik antar makhluk hidup(hewan, tumbuhan, mikroorganisme) dan
lingkungannya (Cambell, 2000:338)
Ekosistem tidak akan tetap
selamanya, tetapi selalu mengalami perubahan. Antara faktor biotik dan abiotik
selalu mengadakan interaksi, hal inilah yang merupakan salah satu penyebab
perubahan-perubahan suatu ekosistem dapat disebabkan oleh proses alamiah atau
karena campur tangan manusia.
B. Rumusan Masalah
1. Apa
saja konsep dasar penting dalam suatu ekosistem?
2. Bagaimanakah
ekosistem tertutup dan ekosistem terbuka tersebut?
3. Bagaimanakah
aliran energi pada sebuah ekosistem?
4. Bagaimana
siklus biogeokimia pada sebuah ekosistem?
5. Apa
yang dimaksud dengan produktivitas dan daya dukung?
6. Bagaimanakah
proses-prose dasar dalam produktivitas primer?
7. Apa
saja metode penentuan produktivitas primer?
8. Bagaimanakah
produktivitas berbagai ekosistem?
9. Apa
yang dimaksud dengan evolusi ekosistem?
10. Apa
yang dimaksud dengan koevolusi?
C. Tujuan Penulisan
1. Untuk
mengetahui apa saja konsep dasar penting dalam suatu ekosistem
2. Untuk
mengetahui apa yang dimaksud dengan ekosistem terbuka dan ekosistem tertutup
3. Untuk
mengetahui bagaimana aliran energi pada suatu ekosistem
4. Untuk
mengetahui bagaimana siklus biogeokimia pada sebuah ekosistem
5. Untuk
mengetahui pengertian produktivitas dan daya dukung
6. Untuk
mengetahui bagaimana proses-prose dasar dalam produktivitas primer
7. Untuk
mengetahui apa saja metode penentuan produktivitas primer
8. Untuk
mengetahui bagaimana proses produktivitas berbagai ekosistem
9. Untuk
mengetahui pengertian dari evolusi ekosistem
10. Untuk
mengetahui pengertian koevolusi.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Konsep Dasar Penting Dalam Suatu
Ekosistem

Istilah ekosistem pertama kali diperkenalkan oleh Tansley (1935), ia
mengemukakan bahwa ekosistem adalah hubungan timbal balik antara komponen
biotik (tumbuhan, hewan, manusia, mikroba) dengan komponen abiotik (cahaya,
udara, air, tanah dan lain sebagainya). Apabila salah satu komponen terganggu,
maka komponen-komponen lainnya secara cepat atau lambat juga akan ikut
terpengaruh.
Ekosistem terdiri atas dua komponen utama, yaitu komponen biotik dan
komponen abiotik.
1.
Komponen Biotik
Setiap makhluk hidup dalam ekosistem menempati suatu
tempat hidup yang spesifik. Tempat hidup yang spesifik tersebut dikenal dengan
istilah habitat (Latin, habitare = bertempat tinggal). Setiap makhluk hidup
yang memiliki peran khusus di dalam habitatnya. Sekelompok makhluk hidup dari
spesies yang sama pada waktu yang sama disebut populasi. Misalnya, rerumputan
di halaman rumah (populasi rumput) atau sekawanan sapi di lapangan (populasi
sapi). Populasi dapat berubah setiap saat. Perubahan populasi dipengaruhi oleh
factor kelahiran, kematian dan migrasi. Beberapa populasi yang berbeda dari
tumbuhan dan hewan yang hidup bersama di lingkungan tertentu akan membentuk
komunitas. Di dalam ekosistem terdapat beberapa macam, komunitas, misalnya,
komunitas kolam, komunitas hutan, dan komunitas pantai.
2.
Komponen Abiotik
Komponen abiotik meliputi apa yang ada disekitar
mahkluk hidup, yang dibahas sebagai berikut :
·
Suhu
Suhu merupakan komponen abiotik di udara, tanah dan
air. Suhu sangat diperlukan oleh setiap makhluk hidup, berkaitan dengan reaksi
kimia yang terjadi dalam tubuh makhluk hidup.
·
Cahaya
Cahaya merupakan salah satu energi yang bersumber dari
radiasi matahari. Cahaya matahari terdiri dari beberapa macam panjang
gelombang. Jenis panjang gelombang, intensitas cahaya dan lama penyinaran
cahaya matahari berperan dalam kehidupan organisme. Misalnya, tumbuhan
memerlukan cahaya matahari dengan panjang gelombang tertentu untuk proses
fotosintesis.
·
Air
Air dapat berbentuk padat, cair dan gas. Di atmosfer
air dapat berbentuk padat, misalnya es dan kristel es (salju), serta berbentuk
gas berupa uap air. Dalam kehidupan, air sangat diperlukan oleh makhluk hidup
karena sebagian besar tubuhnya mengandung air.
·
Kelembapan
Kelembapan merupakan salah satu komponen abiotik di
udara dan tanah. Kelembapan di udara berarti kandungan uap air di udara,
sedangkan kelembapan di tanah berarti kandungan air dalam tanah.
·
Udara
Udara terdiri dari berbagai macam gas, yaitu nitrogen
(78,09%), oksigen (20,93%), karbon dioksida (0,03%) dan gas-gas lain.
·
Garam-garam Mineral
Garam-garam mineral ini terdiri dari ion-ion nitrogen,
fosfat, sulfur, kalsium, dan natrium. Komposisi garam mineral tertentu
menentukan sifat tanah dan air. Contohnya kandungan ion-ion hidrogen menentukan
tingkat keasaman, sedangkan kandungan ion natrium dan klorida di air menentukan
tingkat salinitas (kadar garam). Tumbuhan mengambil garam-garam mineral (unsure
hara) dari tanah dan air untuk proses fotosintesis.
·
Tanah
Tanah merupakan hasil pelapukan batuan yang disebabkan
oleh iklim, dan pembusukan bahan organik. Tanah memiliki sifat, tekstur, dan
kandungan garam mineral tertentu. Tanah yang subur sangat diperlukan oleh
organisme untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Tumbuhan akan tumbuh dengan baik
pada tanah yang subur.
·
Topografi
Topografi artinya tinggi rendahnya permukaan bumi di
suatu daerah. Topografi berkaitan dengan kelembapan, cahaya, suhu, serta
keadaan tanah di suatu daerah. Sebagai contoh, keanekaragaman hayati di daerah
perbukitan berbeda dengan keanekaragaman di derah yang datar. Organisme yang
hidup di derah yang berbukit berbeda dengan di daerah datar. Topografi juga
mempengaruhi penyebaran makhluk hidup.
B. Ekosistem Tertutup dan Terbuka
1.
Ekosistem tertutup
Sistem tertutup yaitu sistem dengan batas yang
memungkinkan untuk terjadinya pertukaran energi, tetapi tidak memungkinkan
pertukaran materi antara sistem dengan pertukaran energi. Bumi adalah salah
satu contoh sistem tertutup. Sistem tertutup ditandai dengan tidak adanya
energi yang atau materi yang melewati batas luar sistem.
2.
Ekosistem terbuka
Sistem terbuka yaitu sistem dengan batas yang
memungkin kan terjadinya pertukaran energi dan materi melintas batas sub sistem
bumi merupakan contoh dari sistem ini. Sistem terbuka ini ditandai dengan
adanya energi atau materi yang dapat melewati batas suatu sistem.
·
Pada dasarnya suatu sistem terdiri dari dua bentuk
dasar yaitu, sistem tertutup yang ditandai dengan tidak adanya energi yang
melewati batas dari luar sistem, sedangkan sistem terbuka dimana energi dapat
melewati batas sistem (baik dari luar maupun dari dalam)
· Energi dan
materi yang diterima oleh sistem terbuka disebut dengan masukan atau input.
· Kehilangan
energi atau materi dari sistem terbuka disebut dengan keluaran atau outout
· Pertukaran
energi dan materi diantara komponen-komponen dalam sistem dikenal sebagai
throughput
· Dengan
pengecualian sistem alam secara keseluruhan termasuk ekosistem terbuka.
C. Aliran Energi
Rantai makanan merupakan aliran
energi makanan melalui sebuah ekosistem. Energi tersebut mengalir dalam satu
arah melalui sejumlah makhluk hidup. Semua energi yang masuk ke dalam rantai
makanan umumnya berasal dari cahaya matahari. Melalui proses fotosintesis
energi tersebut diubah dan disimpan dalam tubuh makhluk hidup produser dalam
bentuk energi kimia. Selanjutnya, energi tersebut mengalir ke konsumer pada
berbagai tingkat trofik dalam ekosistem.
Jaring-jaring makanan memperlihatkan
hubungan populasi yang satu dengan populasi yang lain. Jaring-jaring yang
menggambarkan hubungan itu terbentuk agar kelangsungan hidup setiap populasi
terjamin. Semakin kompleks jaring-jaring makanan, menunjukkan semakin kompleks
juga aliran energi dan aliran makanan dalam suatu ekosistem tersebut. Hal
inilah yang mengakibatkan terjadinya kestabilan komunitas dan kestabilan
ekosistem. Artinya, jika salah satu populasi spesies hil15ang, jaring-jaring
makanan masih tetap berjalan. Jika jaring-jaring makanan itu sederhana dan
salah satu populasi spesies hilang, maka aliran energi dan aliran makanan di
dalam ekosistem tersebut akan kacau. Itulah pentingnya keanekaragaman hayati
yang berinteraksi dalam menjaga kestabilan suatu komunitas.
D. Siklus Biogeokimia
Siklus atau daur unsur-unsur kimia
berputar melewati tubuh makhluk hidup, tanah, dalam bentuk
persenyawaan-persenyawaan kimia. Jadi, daur materi atau mineral ini berlangsung
di dalam ekosistem (biosfer), mengalir melalui komponen, biotik, abiotik,
reaksi kimia dan seterusnya. Oleh karena itu, siklus materi tersebut disebut
sebagai daur biogeokimia.
Daur biogeokimia terjadi sejak
munculnya makhluk hidup pertama kali di bumi. Daur biogeokimia mendukung proses
berlangsungnya kehidupan. Makhluk hidup dapat memperoleh zat-zat dari
lingkungannya, melakukan pertukaran zat, serta membuang zat-zat yang tidak
berguna ke lingkungannya. Jika daur ini terhenti, proses kehidupan juga
berhenti. Jadi, kelancaran daur biogeokimia penting bagi kelangsungan hidup
makhluk hidup.Daur biogeokimia yang akan dibahas meliputi:
1.
Siklus Fosfor
Di dalam
tanah, terkandung fosfat organik yang dapat diserap tumbuhan. Tumbuhan dan
hewan yang mati, feses, dan urinnya akan terurai menghasilkan fosfat organik.
Fosfat organik akan diubah menjadi fosfat anorganik yang dapat diserap tumbuhan.
Di dalam air
juga terjadi daur fosfor, yakni tumbuhan, hewan air, bakteri dan fosfat
anorganik. Bagian tumbuhan yang jatuh ke dasar danau yang dalam atau lautan
dalam akan membentuk endapan fosfor (batuan fosfor) yang tidak dapat
dimanfaatkan kembali. Inilah salah satu alasan semakin kurusnya ekosistem air
yang tidak mempunyai arus air. Lautan yang memiliki arus air mengakibatkan
endapan fosfor teraduk dan menyuburkan ekosistem laut.
2.
Siklus Sulfur
Sulfur merupakan unsur penyusun protein. Tumbuhan mendapatkan belerang dari
dalam tanah dalam bentuk sulfat (SO42-). Di dalam tubuh tumbuhan, belerang
digunakan sebagai bahan penyusun protein. Hewan dan manusia mendapatkan
belerang dengan jalan memakan tumbuhan. Jika tumbuhan dan hewan mati, jasad
renik akan menguraikannya menjadi gas H2S, atau menjadi SO2 dan SO42-.
Secara alami, belerang terkandung di dalam tanah dalam
bentuk mineral tanah. Beberapa gunung berapi, misalnya Gunung Arjuno di Jawa
Timur, mengeluarkan belerang yang kemudian ditambang menjadi batangan belerang.
Selain itu, belerang di udara juga berasal dari sisa pembakaran minya bumi dan
batu bara, dalam bentuk SO2 gas SO2 banyak dihasilkan oleh asap kendaraan dan
pabrik. Jika bereaksi dengan uap air hujan, gas tersebut berubah menjadi
sulfat, yang jatuh di tanah, sungai, atau lautan. Selanjutnya, sulfat dapat
dimanfaatkan oleh tumbuahn atau alga air.
3.
Daur Karbom Dan Oksigen

Unsur C (karbon) diserap tumbuhan dalam bentuk CO2
tumbuhan tidak dapat menyerap unsure C dalam bentuk gula atau zat tepung.
Sebaliknya hewan hanya dapat memanfaatkan karbon dalam bentuk persenyawaan
organik. Unsur C dan O selalu terlibat dalam proses respirasi dan fotosintesis,
yaitu dalam bentuk CO2 dan O2.
Daur karbon ini diawali oleh penyerapan CO2 oleh tumbuhan dan dijadikan persenyawaan organik, yaitu glukosa, melalui proses fotosintesis. Selanjutnya glukosa disusun menjadi amilum, kemudian amilum diubah menjadi senyawa gula yang lain, lemak, protein, dan vitamin. Pada proses pernafasan tumbuhan, dihasilkan lagi CO2 dan oksigen. Dengan demikian, daur karbon terpendek terjadi pada tumbuhan-lingkungan-tumbuhan. Karbon dioksida ini digunakan oleh tumbuhan untuk fotosintesis.
Daur karbon ini diawali oleh penyerapan CO2 oleh tumbuhan dan dijadikan persenyawaan organik, yaitu glukosa, melalui proses fotosintesis. Selanjutnya glukosa disusun menjadi amilum, kemudian amilum diubah menjadi senyawa gula yang lain, lemak, protein, dan vitamin. Pada proses pernafasan tumbuhan, dihasilkan lagi CO2 dan oksigen. Dengan demikian, daur karbon terpendek terjadi pada tumbuhan-lingkungan-tumbuhan. Karbon dioksida ini digunakan oleh tumbuhan untuk fotosintesis.
Demikian pula daur oksigen. Hewan mendapatkan karbon
setelah memakan tumbuhan. Kemudian, tubuh hewan dan tumbuhan yang mati
diuraikan menjadi karbon dioksida, air, dan mineral oleh pengurai. Karbon
dioksida yang terbentuk dilepaskan ke udara. Demikian seterusnya daur karbon
itu berlangsung. Daur karbon ini merupakan daur karbon terpanjang yang
berlangsung melalui, tumbuhan, hewan, pengurai, karbon dioksida di udara dan
tumbuhan. Oksigen diserap hewan dan tumbuhan untuk oksidasi dan hasilnya, yaitu
karbon dioksida dilepaskan ke udara.
4.
DAUR AIR
Air sangat penting bagi makhluk hidup karena air
berfungsi sebagai pelarut kation dan anion, pengatur suhu tubuh, pengatur
tekanan osmotik sel dan bahan baku untuk fotosintesis. Di alam terjadi daur air
yang dapat diuraikan sebagai berikut:
Air laut, danau, dan sungai yang terkena cahaya
matahari akan menguap. Tumbuhan dan hewan juga mengeluarkan uap air.
Uap air akan menumpuk ke atmosfer dan berkumpul
membentuk awan. Akibat tiupan angin, awan akan bergerak menuju ke permukaan
daratan. Pengaruh suhu yang rendah mengakibatkan terjadinya kondensasi uap air
menjadi titik-titik air hujan. Air hujan yang turun di permukaan bumi sebagian
meresap ke dalam tanah, sebagian dimanfaatkan tumbuhan dan hewan, sebagian yang
lain mengalir di permukaan tanah menjadi sungai-sungai, dan sebagian lagi
menguap menjadi uap air yang akan turun kembali bersama air hujan.
5.
DAUR
NITROGEN

Nitrogen merupakan salah satu unsure pembentuk asam
amino. Asam amino merupakan persenyawaan pembentuk molekul protein. Protein
merupakan senyawa yang berguna sebagai penyusun tubuh, misalnya otot, dan
sebagai penggiat reaksi-reaksi metabolisme tubuh, misalnya enzim pencernaan untuk
mencerna makanan.Nitrogen diperlukan tidak dalam bentuk unsure, melainkan dalam
bentuk persenyawaan. Atmosfer bumi mengandung ±79% nitrogen. Petir menyebebkan
nitrogen di atmosfer bersenyawa dengan oksigen membentuk nitrat (NO3). Tumbuhan
menyerap nitrat dari tanah untuk dijadikan protein. Ketika tumbuhan dimakan
consumer, nitrogen berpindah ke tubuh hewan. Urin, bangkai hewan, dan tumbuhan
mati akan diuraikan oleh pengurai menjadi ammonium dan ammonia. Bakteri nitrit
Nitrosomonas mengubah ammonium menjadi nitrit. Selanjutnya, bakteri nitrat
Nitrobacter akan mengubah nitrit menjadi nitrat. Peristiwa pengubahan ammonium
menjadi nitrit dan nitrat disebut sebagai nitrifikasi. Nitrat akan diserap lagi
oleh tumbuhan. Ada pula bakteri yang mampu mengubah nitrat atau nitrit menjadi
nitrogen bebas di udara. Prosesnya disebut sebagai denitrifikasi.
Pada umumnya makhluk hidup tidak mampu memanfaatkan
nitrogen secara langsung dari udara. Akan tetapi, ada pula yang dapat
memanfaatkannya. Contohnya, bakteri Rhizobium yang bersimbiosis dengan
kacang-kacangan (kelompok Leguminosae) membentuk bintil akar dan mampu mengikat
nitrogen dari udara. Bakteri tersebut sangat menguntungkan petani, karena dapat
menyediakan nitrogen bagi tumbuhan inangnya dan juga dapat menyuburkan tanah.
Tanah yang kekurangan bakteri Rhizobium dapat ditaburi dengan lagin, yaitu
biakan bakteri pengikat nitrogen yang saat ini sudah banyak diperjual belikan.
E. Produktivitas dan Daya Dukung
Produktivitas
adalah laju produksi makhluk hidup dalam ekosistem. Produksi bagi ekosistem
merupakan proses pemasukan dan penyimpanan energi dalam ekosistem. Pemasukan
energi dalam ekosistem yang dimaksud adalah pemindahan energi cahaya menjadi
energi kimia oleh produsen. Sedangkan penyimpanan energi yang dimaksudkan
adalah penggunaan energi oleh konsumen dan mikroorganisme.
Daya Dukung Lingkungan (Carrying
Capacity) adalah Jumlah individu maksimum dari suatu spesies yang dapat hidup
dalam suatu ekosistem ditentukan oleh luas relung yang tersedia bagi spesies
tersebut. Konsep relung dapat digunakan untuk menjelaskan mengapa ukuran
populasi dari suatu spesies yang terdapat dalam ekosistem tetap konstan dari
waktu ke waktu dalam waktu yang relatif lama meski selalu mendapatkan tambahan
anak.
Setiap ekosistem atau komunitas,
atau bagian-bagiannya memiliki produktivitas dasar atau disebut pula
produktivitas primer. Batasan produktivias primer adalah kecepatan penyimpanan
energi potensial oleh organisme produsen, melalui proses fotosintesis dan
kemosintesis, dalam bentuk bahan-bahan organik yang dapat pula digunakan
sebagai bahan pangan.
Kategori-kategori produktivitas antara lain:
1.
Produktivitas primer kotor, yaitu kecepatan total
fotosintesis, menyangkut pula bahan organik yang dipakai untuk respirasi selama
pengukuran. Istilah lain untuk produktivitas primer kotor adalah “fotosintesis
total” atau “asimilasi total”.
2.
Produktivitas primer bersih, yaitu kecepatan
penyimpanan bahan-bahan organik dalam jaringan tumbuhan, sebagai kelebihan
bahan yang dipakai untuk respirasi oleh tumbuhan itu selama pengukuran. Istilah
lain untuk produktivitas bersih adalah: ”fotosintesis nyata” atau “asimilasi
bersih”
F. Proses-Proses Dasar Dalam
Produtivitas Primer
Produksi bagi ekosistem merupakan
proses pemasukan dan penyimpanan energi dalam ekosistem. Pemasukan energi dalam
ekosistem yang dimaksud adalah pemindahan energi cahaya menjadi energi kimia
oleh produsen. Sedangkan penyimpanan energi yang dimaksudkan adalah penggunaan
energi oleh konsumen dan mikroorganisme. Laju produksi makhluk hidup dalam
ekosistem disebut sebagai produktivitas.
Produktivitas primer merupakan laju
penambatan energi yang dilakukan oleh produsen. Menurut Campbell (2002),
Produktivitas primer menunjukkan Jumlah energi cahaya yang diubah menjadi
energi kimia oleh autotrof suatu ekosistem selama suatu periode waktu tertentu.
Total produktivitas primer dikenal sebagai produktivitas primer kotor (gross
primary productivity, GPP). Tidak semua hasil produktivitas ini disimpan
sebagai bahan organik pada tubuh organisme produsen atau pada tumbuhan yang
sedang tumbuh, karena organisme tersebut menggunakan sebagian molekul tersebut
sebagai bahan bakar organik dalam respirasinya. Dengan demikian, Produktivitas
primer bersih (net primary productivity, NPP) sama dengan produktivitas primer
kotor dikurangi energy yang digunakan oleh produsen untuk respirasi.
Proses yang terjadi di dalam
produktivitas primer adalah sebagai berikut:
1. Proses
Fotosintesis
Dalam proses ini hanya sebagian kecil energi cahaya
yang dimanfaatkan. Diperkirakan dari sejumlah energi cahaya yang sampai pada
tumbuhan, hanya 1 – 5% dapat diubah menjadi energi kimia. Pemanfaatan energi cahaya
untuk membentuk karbohidrat dalam fotosintesis meliputi beberapa proses kimia
yang sangat kompleks termasuk dengan biokalalisatornya yang berupa enzim.
Secara sederhana reaksi fotosintesis dapat dituliskan sebagaio berikut.
Cahaya
6 CO2 + 6
H2O-----> 6C6H12O6 + O2
Klorofil
Gula yang dihasilkan dalam proses fotosintesis
mempunyai berbagai kemungkinan yaitu, dimanfaatkan kembali dalam proses
respirasi untuk menghasilkan ATP; dikonversi menjadi bentuk senyawa organik
lain; dan dikombinasi dengan gugus tertentu menjadi asam amino dan selanjutnya
diubah menjadi protein.
2. Proses
Respirasi
Proses ini merupakan kebalikan dari proses
fotosintesis yang melibatkan berbagai reaksi dan biokatalisator yang berupa
enzim. Secara sederhana reaksinya adalah sebagai berikut.
6C6H12O6 + O2--------> 6 CO2 + energi
Enzim
Pada kondisi optimum kecepatan fotosintesis dapat
mencapai 30 kali dari kecepatan respirasi, terutama pada tempat-tempat yang
terdedah dengan cahaya matahari. Pada umumnya tumbuhan menggunakan karbohidrat
untuk respirasinya berkisar antara 10 – 75% dari hasil fotosintesisnya, dan ini
tergantung dari jenis dan usia tumbuhan.
3. Faktor-faktor
yang Mempengaruhi Produktivitas
Jika produktivitas suatu ekosistem hanya berubah
sedikit dalam jangka waktu yang lama maka hal itu menandakan kondisi lingkungan
yang stabil, tetapi jika perubahan yang dramatis maka menunjukkan telah terjadi
perubahan lingkungan yang nyata atau terjadi perubahan yang penting dalam
interaksi di antara organisme penyusun eksosistem. Menurut Campbell (2002),
terjadinya perbedaan produktivitas pada berbagai ekosistem dalam biosfer
disebabkan oleh adanya faktor pembatas dalam setiap ekosistem. Faktor yang
paling penting dalam pembatasan produktivitas bergantung pada jenis ekosistem
dan perubahan musim dalam lingkungan.
Produktivitas pada ekosistem dipengaruhi oleh beberapa
faktor antara lain:
a.
Suhu
Berdasarkan gradasi suhu rata-rata tahunan, maka
produktivitas akan meningkat dari wilayah kutub ke ekuator. Namun pada hutan
hujan tropis, suhu bukanlah menjadi faktor dominan yang menentukan
produktivitas, tapi lamanya musim tumbuh. Adanya suhu yang tinggi dan konstan
hampir sepanjang tahun dapat bermakna musim tumbuh bagi tumbuhan akan
berlangsung lama, yang pada gilirannya meningkatkan produktivitas.
Suhu secara langsung ataupun tidak langsung
berpengaruh pada produktivitas. Secara langsung suhu berperan dalam mengontrol
reaksi enzimatik dalam proses fotosintetis, sehingga tingginya suhu dapat
meningkatkan laju maksimum fotosintesis. Sedangkan secara tidak langsung,
misalnya suhu berperan dalam membentuk stratifikasi kolom perairan yang
akibatnya dapat mempengaruhi distribusi vertikal fitoplankton.
b.
Cahaya
Cahaya merupakan sumber energi primer bagi ekosistem.
Cahaya memiliki peran yang sangat vital dalam produktivitas primer, oleh karena
hanya dengan energy cahaya tumbuhan dan fitoplankton dapat menggerakkan mesin
fotosintesis dalam tubuhnya. Hal ini berarti bahwa wilayah yang menerima lebih
banyak dan lebih lama penyinaran cahaya matahari tahunan akan memiliki
kesempatan berfotosintesis yang lebih panjang sehingga mendukung peningkatan
produktivitas primer.
c.
Air, curah hujan dan kelembaban
Produktivitas pada ekosistem terrestrial berkorelasi
dengan ketersediaan air. Air merupakan bahan dasar dalam proses fotosintesis,
sehingga ketersediaan air merupakan faktor pembatas terhadap aktivitas
fotosintetik. Secara kimiwi air berperan sebagai pelarut universal, keberadaan
air memungkinkan membawa serta nutrient yang dibutuhkan oleh tumbuhan.
Tingginya kelembaban pada akan meningkatkan
produktivitas mikroorganisme. Selain itu, proses lain yang sangat dipengaruhi
proses ini adalah pelapukan tanah yang berlangsung cepat yang menyebabkan
lepasnya unsur hara yang dibutuhkan oleh tumbuhan.
d.
Nutrien
Tumbuhan membutuhkan berbagai ragam nutrient
anorganik, beberapa dalam jumlah yang relatif besar dan yang lainnya dalam
jumlah sedikit, akan tetapi semuanya penting. Pada beberapa ekosistem
terrestrial, nutrient organik merupakan faktor pembatas yang penting bagi
produktivitas. Produktivitas dapat menurun bahkan berhenti jika suatu nutrient
spesifik atau nutrient tunggal tidak lagi terdapat dalam jumlah yang mencukupi.
Nutrient spesifik yang demikian disebut nutrient pembatas (limiting nutrient).
Pada banyak ekosistem nitrogen dan fosfor merupakan nutrient pembatas utama,
beberapa bukti juga menyatakan bahwa CO2 kadang-kadang membatasi produktivitas.
Produktivitas di laut umumnya terdapat paling besar
diperairan dangkal dekat benua dan disepanjang terumbu karang, di mana cahaya
dan nutrient melimpah. Produktivitas primer persatuan luas laut terbuka relativ
rendah karena nutrient anorganik khusunya nitrogen dan fosfor terbatas
ketersediaannya dipermukaan. Di tempat yang dalam di mana nutrient melimpah,
namun cahaya tidak mencukupi untuk fotosintesis. Sehingga fitoplankton, berada
pada kondisi paling produktif ketika arus yang naik ke atas membawa nitrogen
dan fosfor kepermukaan.
e.
Tanah
Potensi ketersedian hidrogen yang tinggi pada
tanah-tanah tropis disebabkan oleh diproduksinya asam organik secara kontinu
melalui respirasi yang dilangsungkan oleh mikroorganisme tanah dan akar
(respirasi tanah). Jika tanah dalam keadaan basah, maka karbon dioksida (CO2)
dari respirasi tanah beserta air (H2O) akan membentuk asam karbonat (H2CO3 )
yang kemudian akan mengalami disosiasi menjadi bikarbonat (HCO3-) dan sebuah
ion hidrogen bermuatan positif (H+). Ion hidrogen selanjutnya dapat
menggantikan kation hara yang ada pada koloid tanah, kemudian bikarbonat
bereaksi dengan kation yang dilepaskan oleh koloid, dan hasil reaksi ini dapat
tercuci ke bawah melalui profil tanah.
Hidrogen yang dibebaskan ke tanah sebagai hasil
aktivitas biologi, akan bereaksi dengan liat silikat dan membebaskan aluminium.
Karena aluminium merupakan unsur yang terdapat dimana-mana di daerah hutan
hujan tropis, maka alminiumlah yang lebih dominan berasosiasi dengan tanah asam
di daerah ini. Sulfat juga dapat menjadi sumber pembentuk asam di tanah. Sulfat
ini dapat masuk ke ekosistem melalui hujan maupun jatuhan kering, juga melalui
aktivitas organisme mikro yang melepaskan senyawa gas sulfur.
f.
Herbivora
Sekitar 10 % dari produktivitas vegetasi darat dunia
dikonsumsi oleh herbivora. Persentase ini bervariasi menurut tipe ekosistem
darat. Namun demikian, akibat yang ditimbulkan oleh herbivora pada
produktivitas primer sangat sedikit sekali diketahui. Bahkan hubunga antar
herbivora dan produktivitas primer bersih kemungkinan bersifat kompleks, di
mana konsumsi sering menstimulasi produktivitas tumbuhan sehingga meningkat
mencapai tingkat tertentu yang kemudian dapat menurun jika intensitasnya
optimum.
G. Metode Penentuan Produktivitas
Primer
Beberapa cara penentuan
produktivitas primer adalah sebagai berikut :
1.
Metode Penuaian
Cara ini di tentukan berdasarkan berat pertumbuhan
dari tumbuhan. Dapat dinyatakan secara langsung berat keringnya atau kalori
yang terkandung, tetapi keduanya dinyatakan dalam luas dan priode waktu
tertentu. Metode ini mengukur produktivitas primer bersih.
Metode penuaian ini sangat cocok dan baik pada
ekosistem daratan, dan biasanya untuk vegetasi yang sederhana. Tetapi dapat
pula di gunakan untuk ekosistem lainya dengan syarat tumbuhan tahunan
predominan dan tidak terdapat rerumputan. Untuk ini paling baik mencuplik
produktivitas pada satu seri percontohan(cuplikan)selama satu musim tumbuh.
Metode ini merupakan metode paling awal dalam mengukur produktivitas primer.
Caranya adalah dengan memotong bagian tanaman yang berada diatas permukaan
tanah, baik pada tumbuhan yang tumbuh di tanah maupun yang didalam air. Bagian
yang di potong selanjutnya dipanaskan sampai seluruh airnya hilang atau
beratnya konstan. Materi tersebut ditimbang, dan prodiktivitas primer di
nyatakan dalam biomassa per unit area per unit waktu, misalnya sebagai gram
berat kering/ m2 /tahun.metode ini menunjukkan perubahan berat kering selama
priode waktu tertentu. Metode penuian memeng tidak cocok untuk mengukur
produktivitas primer fitoplankton, karena ada beberapa kesalahan misalnya
perubahan biomasa yang terjadi tidak hanya diakibatkan oleh produktivitas
tetapi juga berkurangnya fitoplankton oleh hewan – hewan pada tropik diatasnya,
atau mungkin jumlah fitoplankton berubah karena gerakan air dan pengadukan.
Metode penuaian ini sangat sederhana, meskipun memiliki potensi – potensi
kesalahan- kesalahan : sistim akar harus termasuk dalam perhitungan, dan adanya
hewan herbivora.
2.
Metode Penentuan Oksigen
Oksigen merupakan hasil sampingan dari fotosintesis,
sehingga ada hubungan erat antara produktifvitas dengan oksigan yang di
hasilkan oleh tumbuhan. Tetapi harus di ingat sebagian oksigen di manfaatkan
oleh tumbuhan tersebut dalam proses respirasi, dan harus di perhitungkan dalam
penentuan produktivitas.
Metode ini sangat cocok dalam menentukan produktivitas
primer ekosistem perairan, dengan fitoplankton sebagai produsennya. Dua contoh
air yang mengandung ganggang di ambil pada kedalaman yang relatif sama. Satu
contoh di simpan di dalam botol bening dan satunya lagi pada botol yang di cat
hitam. Kandungan oksigen dari kedua botol tadi sebelumnya ditentukan, kemudian
di simpan dalam air yang sesuai dengan kedalaman dan tempat pengambilan air
tadi. Kedua botol tadi di biarkan selama satu sampai 12 jam. Selama itu akan
terjadi perubahan kandungan oksigen di kedua botol tadi. Pada botol yang hitam
terjadi proses respirasi yang menggunakan oksigen, sedangkan pada botol yang
bening akan terjadi baik fotosintesis maupun respirasi. Diasumsikan respirasi
pada kedua botol relatif sama. Dengan demikian produktivitas pada ganggang
dapat di tentukan. Metode-metode ini memiliki kelemahan-kelemahan, yaitu hanya
dapat di lakukan pada produsen mikro dan asumsi respirasi pada kedua botol tadi
sama adalah kurang tepat.
3.
Metode Pengukuran Karbondioksida
Karbondioksida yang di pakai dalam fotosintesis oleh
tumbuhan dapat di pergunakan sebagai indikasi untuk produktivitas primer. Dalam
hal ini seperti juga pada metode penentuan oksigen proses respirasi harus di
perhitungkan. Metode ini cocok untuk tumbuhan darat dan dapat di pakai pada
suatu organ daun, seluruh bagian tumbuhan dan bahkan satu komunitas tumbuhan.
Ada dua tehnik atau metode utama yaitu:
a.
Metode ruang tertutup
Biasanya di gunakan untuk sebagian atau seluruh
tumbuhan kecil (herba,perdu pendek). Dua contoh di pilih dan di usahakan satu
sama lainnya relatif sama. Satu contoh di simpan dalam kontainer bening dan
satunya lagi di simpan dalam kontainer gelap (tertutup lapisan hitam). Udara
dibiarkan keluar- masuk pada kedua kontainer melalui pipa yang sudah di atur
sedenikian rupa dan mempergunakan pengisapan udara dengan kecepatan aliran
udara tertentu. Konsentrasi karbondioksida yang masuk dan keluar kontainer di
pantau. Dengan cara ini karbondioksida yang di pakai dalam fotosintesis dapat
dihitung, yaitu sama dengan jumlah yang di hasilkan dalam kontainerr gelap di
tambah dengan jumlah yang di pakai dalam kontainer bening/terang. Dalam
kontainer gelap terdapat produksi karbondioksida sebagai hasil respirasi, dan
pada kontainer bening karbondioksida di pakai dalam proses fotosintesis daan
juga adanya produksi akibat adanya respirasi. Metode ini juga memiliki
kelemahan seperti pada metode dengan penentuan oksigen dan meningkatnya suhu
dalam kontainer (seperti rumah kaca) sehingga mempengaruhi proses fotosintesis
dan respirasi.
b.
Metode Aerodinamika
Metode ini maksudnya menutupi kelemahan-kelemahan pada
metode ruang tertutup. Karbondiaksida yang diukur diambil dari sensor yang di
pasang pada tabung tegak dalam komunitas, dan satunya lagi di pasang lebih
tinggi dari tumbuhan. Perubahan konsentrasi karbondioksida di atas dan didalam
komunitas dapat di pakai sebagai indikasi dari produktivitas. Pada malam hari
konsentrasi karbondioksida akan meningkat akibat terjadi respirasi, sedangkan
pada siang hari konsentrasi akan menurun akibat proses fotosintesis.
Perbandingan konsentrasi ini merupakan indikasi berapa banyak karbon dioksida
yang di manfaatkan dalam fotosintesis.
4.
Metode radioaktif
Materi aktif yang dapat di identifikasi radiasinya di
masukkan dalam sistem. Misalnya karbon aktif (C14) dapat di introduksi melalui
suplai karbondioksida yang nantinya di asimilasikan oleh tumbuhan dan di pantau
untuk mendapatkan perkiraan produktivitas. Tehnik ini sangat mahal dan
memerlukan peralatan yang canggih, tetapi memiliki kelebihan dari metode
lainya, yaitu dapat di pakai dalam berbagai tipe ekosistem tanpa melakukan
penghancuran terhadap ekosistem.
5.
Metode
penentuan klorofil
Produktivitas berhubungan erat dengan jumlah klorofil yang ada. Rasio
asimilasi untuk tumbuhan atau ekosistem adalah laju dari produktivitas pergram
klorofil. Konsentrasi klorofil dapat ditentukan berdasarkan cara yang
sederhana, yaitu dengan cara mengekstraksi pigmen tumbuhan. Mul-mula dilakukan
pencuplikan daun dengan ukuran tertentu. Untuk sampling fitoplankton dilakukan
dengan pengambilan sampel air dalam volume tertentu. Organisme selain
fitoplankton harus di pisahkan dari sampel. Samel selanjutnya di saring dengan
menggunakan filter khusus fitoplankton pada pompa vakum dengan tekanan rendah.
Filter yang mengandung klorofil dilarutkan pada aseton 85% , kemudian dibiarkan
semalam, dan selanjutnya di sentrifuse. Supernatannya dibuang dan pelet yang
mengandung klorofil di keringkan dan di timbang beratnya. Berat klorofil di
ukur dalam mg klorofil/unit area. Pengukuran klorofil juga bisa di lakukan
dengan spektrofotometer dengan panjang gelombang 665 nm. Bila rasio asimilasi,
kadar klorofil, dan jumlah energi cahaya di ketahui, maka produktivitas primer
kotor dapat diketahui. Metode ini dapat di terapkan pada berbagai tipe
ekosistem.
H. Produktivitas Berbagai Ekosistem
Produksi bagi ekosistem merupakan
proses pemasukan dan penyimpanan energ dalam ekosistem. Pemasukan energi dalam
ekosistem yang dimaksud adalah pemindahan energi cahaya menjadi energi kimia
oleh produsen. Sedangkan penyimpanan energi yang dimaksudkan adalah penggunaan
energi oleh konsumen dan mikroorganisme. Laju produksi makhluk hidup dalam
ekosistem disebut sebagai produktivitas.
1.
Produktivitas Primer
Produktivitas primer merupakan laju penambatan energy
yang dilakukan oleh produsen. Produktivitas primer menunjukkan Jumlah energy
cahaya yang diubah menjadi energy kimia oleh autotrof suatu ekosistem selama
suatu periode waktu tertentu. Total produktivitas primer dikenal sebagai
produktivitas primer kotor (gross primary productivity, GPP). Tidak semua hasil
produktivitas ini disimpan sebagai bahan organik pada tubuh organisme produsen
atau pada tumbuhan yang sedang tumbuh, karena organisme tersebut menggunakan
sebagian molekul tersebut sebagai bahan bakar organic dalam respirasinya.Dengan
demikian, Produktivitas primer bersih (net primary productivity, NPP) sama
dengan produktivitas primer kotor dikurangi energy yang digunakan oleh produsen
untuk respirasi (Rs):
NPP = GPP –
Rs
Dalam sebuah ekosistem, produktivitas primer
menunjukkan simpanan energi kimia yang tersedia bagi konsumen. Pada sebagian
besar produsen primer, produktivitas primer bersih dapat mencapai 50% – 90%
dari produktivitas primer kotor.
Produktivitas primer dapat dinyatakan dalam energy
persatuan luas persatuan waktu (J/m2/tahun), atau sebagai biomassa (berat
kering organik) vegetasi yang ditambahkan ke ekosistem persatuan luasan per
satuan waktu (g/m2/tahun). Namun demikian, produktivitas primer suatu ekosistem
hendaknya tidak dikelirukan dengan total biomassa dari autotrof fotosintetik
yang terdapat pada suatu waktu tertentu, yang disebut biomassa tanaman tegakan
(standing crop biomass). Produktivitas primer menunjukkan laju di mana
organisme-organisme mensintesis biomassa baru. Meskipun sebuah hutan memiliki
biomassa tanaman tegakan yang sangat besar, produktivitas primernya mungkin
sesungguhnya kurang dari produktivitas primer beberapa padang rumput yang tidak
mengakumulasi vegetasi.
2.
Pengukuran Produktivitas
Pengukuran produktivitas dapat dilakukan dengan
beberapa metode seperti metode biomassa, metode penandaan dan metode
metabolisme. Penelitian produktivitas di Indonesia umumnya menggunakan metode
penandaan. Produktivitas yang diperoleh dari hasil pengukuran ini bisa lebih
kecil dari produktivitas yang sebenarnya karena tidak memperhitungkan
kehilangan seresah, pengaruh grazing hewan-hewan herbivora yang memakan
tumbuhan. Beberapa peneliti membagi biomassa atau produktivitas menurut
letaknya terhadap substrat yaitu biomassa di atas substrat (meliputi batang,
helaian dan pelepah daun) dan biomassa di bawah substrat meliputi akar, dan
rhizome.
Tunas-tunas fotosintetik pada tumbuhan merupakan organ
penting untuk berproduksi. Namun banyak hasil fotosintesis ditranslokasikan ke
bawah tanah, di mana hasil fotosintesis tersebut mendukung pertumbuhan akan dan
disimpan. Selama musim pertumbuhan, ketika biomassa di atas tanah meningkat
cepat, biomas di bawah tanah umumnya cenderung menurun. Sedangkan pada akhir
musim, biomassa di bawah tanah umumnya meningkat kembali karena kelebihan
produksi yang dihasilkan tunas-tunas kemudian dipindahkan ke bawah.
3.
Produktivitas Ekosistem Dunia
Ekosistem yang berbeda sangat bervariasi dalam
produktivitasnya. Hutan hujan tropis merupakan salah satu ekosistem terrestrial
yang paling produktif. Di samping karena hutan hujan tropis menutupi sebagian
besar bumi dan memiliki keanekaragaman yang sangat tinggi, besarnya volume
biomassa tumbuhan persatuan luas pada hutan hujan tropis sehingga memberi kesan
produktivitas yang sangat tinggi dan lahan yang sangat subur.
Muara dan terumbu karang juga memiliki produktivitas yang sangat tinggi,
akan tetapi sumbangan total mereka terhadap produktivitas global relative kecil
karena areal ekosistem yang tidak begitu luas di Bumi. Lautan terbuka
menyumbangkan lebih banyak produktivitas primer dibandingkan dengan ekosistem
lain, akan tetapi hal ini disebabkan oleh ukurannya yang sangat besar sedangkan
produktivitas persatuan luasnya relative rendah. Gurun dan tundra juga memiliki
produktivitas yang rendah.
I. Evolusi Ekosistem
Ekosistem tidak diam dan statis,
melainkan selalu berubah (dinamis). Ekosistem tumbuh dari komunitas sederhana
menuju ke komunitas yang kompleks. Selama pertumbuhan itu terjadi pergantian
jenis-jenis organisme yang dominan atau menguasai. Pertumbuhan dominasi itu
dikenal sebagai suksesi atau evolusi. Suksesi terus berlangsung hingga tercapai
suatu klimaks. Sebagai contoh, sawah yang dibiarkan akan ditumbuhi rumput. Jika
dibiarkan terus beberapa tahun kemudian, akan ditumbuhi semak belukar, jika
terus dibiarkan, misalnya hingga 75-150 tahun, mungkin akan menjadi hutan yang
lebat.
Suksesi ekologi akan terus
berlangsung hingga mencapai suatu keadaan seimbang, yang disebut dengan istilah
komunitas kimaks. Jika terjadi klimaks, suksesi ekologi akan terhenti. Ini
bukan berarti proses pemanfaatan energi juga berhenti. Proses pemanfaatan
energi terus berlanjut. Hanya saja, terjadi keseimbangan antara energi yang disimpan
dan energi yang digunakan oleh berbagai komponen penyusun ekosistem itu. Ini
dikenal sebagai keseimbangan ekosistem. Jadi dalam klimaks, terjadi
keseimbangan ekosistem. atau bioma.
Ditinjau dari asal terjadinya,
suksesi dibedakan menjadi suksesi primer dan suksesi sekunder.
1.
Suksesi Primer

Suksesi primer berlangsung pada tempat terbuka yang
kosong sehingga muncul ekosistem baru. Misalnya, letusan Gunung Krakatau pada
tahun 1883 mengakibatkan permukaan Pulau Krakatau ditutupi batu-batu gunung.
Sampai dua bulan berikutnya, keadaan batu-batuan di sana masih panas. Tidak ada
makhluk hidup dijumpai di atasnya. Sembilan bulan kemudian, muncul alga biru
yang menempel pada batu yang lembab. Alga biru yang hidup pertama kali itu
dikenal sebagai organisme perintis (pionir). Tahun berikutnya, muncul lumut
kerak. Hasil pelapukan oleh alga biru dan lumut kerak membentuk tanah, yang
memungkinkan tumbuhan lain hidup di atasnya. Tiga tahun kemudian, muncul
tumbuhan pantai yang tumbuh dari biji-biji yang terbawa air laut dari Pulau
Jawa atau Sumatera. Biji-biji yang terbawa burung atau kelelawar yang
berjatuhan di sana juga akan tumbuh. Tujuh tahun setelah itu, dijumpai
bermacam-macam serangga, biawak, ular, dan laba-laba. Seratus tahun kemudian,
telah terdapat hutan di tereng-lereng Gunung Krakatau. Di Negara kita, proses
dari batuan hingga menjadi hutan belantara memerlukan waktu 100–150 tahun. Di
Negara beriklim sedang, waktunya mencapai 500 tahun atau lebih.
2.
Suksesi Sekunder
Suksesi sekunder berlangsung di
bekas ekosistem yang tidak mengalami kerusakan total. Suksesi sekunder tidak
dimulai dari kondisi ekosistem yang kosong. Contohnya, suksesi yang terjadi di
bekas sawah, tanah rawa yang dikeringkan, dan padang alag-alang. Di dalam
suksesi sekunder tidak dijumpai organisme perintis. Jenis organisme yang
mendominasi tergantung pada lingkungannya.
J. Koevolusi
Koevolusi adalah tipe-tipe adaptasi yang khas karena hubungan antar jenis
(interspesific) makhluk hidup. Koevolusi digunakan untuk mendeskripsikan suatu
keadaan yang melibatkan serangkaian adaptasi terbalik (resiprokal), perubahan
pada satu spesies yang berperan sebagai komponen seleksi untuk spesies lain,
dan adaptasi perlawanan dari spesies kedua yang timbul sebagai respon pengaruh
seleksi yang ditimbulkan oleh spesies pertama. Koevolusi secara intensif
dipelajari dalam hubungan predator-prey dan simbiosis yang merupakan hubungan
antar populasi makhluk hidup dalam komunitas.
Dalam artian luas koevolusi adalah “perubahan pada objek biologis yang
dicetuskan oleh perubahan pada objek lain yang berkaitan dengannya”. Koevolusi
dapat terjadi pada berbagai tingkatan biologis: ia dapat terjadi secara
makroskopis maupun mikroskopis.
Mahluk hidup akan semaksimal mugkin mengeksploitasi lingkungan
kehidupannya, inilah prinsip koevolusi. Syarat terjadinya koevolusi adalah
adanya pola-pola hubungan antara spesis satu dengan spesies yang lain dalam
komunitas. Hubungan antara spesies ini akan memunculkan tipe-tipe adapasi yang
merpakan tanda terjadinya koevolusi.
Contoh kasus koevolusi adalah hubungan antara Pseudomyrmex (sejenis semut)
dengan tumbuhan akasia. Semut menggunakan tumbuhan ini sebagai tempat
berlindung dan sumber makanan. Hubungan antar dua organisme ini sangat dekat
sehingga menyebabkan evolusi struktur dan perilaku khusus pada kedua organisme.
Semut melindungi pohon akasia dari hewan herbivora dan membersihkan tanah hutan
dari benih tumbuhan saingan. Sebagai gantinya, tumbuhan mempunyai struktur duri
yang membesar yang dapat digunakan oleh semut sebagai tempat perlindungan dan
sumber makanan ketika tumbuhan tersebut berbunga.
Contoh yang lain adalah hubungan antara populasi tumbuhan berbunga dalam
genus Passiflora dengan serangga herbivore kupu-kupu Heliconius. Untuk
melindungi diri dari larva herbivora yang memakannya, daun muda dan tunas
tumbuhan Passiflora menghasilakn zat racun. Walaupun ternyata larva Heliconius
mampu mentoleransi zat pahit ini dengan enzim pemecah zat racun tersebut.
Adaptasi balik yang diberikan Passiflora, ia memberi makan bagi serangga jenis
ini dan memberi tempat untuk bertelur. Bintik daun Passiflora mengandung nectar
yang mengundang serangga lain yang sekaligus sebagai predator Heliconius.
Akibat adanya kompetisi, ancaman Heliconius terhadap Passiflora sedikit
terkurangi.
Suatu contoh
koevolusi yang terjadi di sekitar kita misalnya di daerah sekitar Merapi.
Beberapa saat yang lalu Merapi mengeluarkan materi vulkaniknya. Pada saat
Merapi meletus menimbulkan hal-hal yang negativ seperti dengan rusaknya segala
sesuatu yang ada di sekitar Merapi. Tak terkecuali hewan dan tumbuhan yang ada
di sekitarnya. Banyak tumbuhan yang mati karena terkena dampak meletusnya
Merapi. Namun dibalik semua itu, ada sebuah hal yang tentunya akan berdampak
bagi kelangsungan hewan dan tumbuhan di sekitar Merapi. Dalam jangka waktu
tertentu, materi vulkanik dari merapi akan terurai di dalam tanah hingga
menyebabkan tanah di sekitar Merapi akan subur. Dengan adanya tanah yang subur
ini maka tumbuhan yang dulunya mungkin tumbuh sulit maka akan bias tumbuh
dengan baik. Dengan keadaan tanah yang subur tentunya tumbuhan akan menyerap
lebih banyak unsure hara sehingga pertumbuhannya akan lebih baik. Terutama
tanaman perkebunan seperti sayur-sayuran maupun teh dan sebagainya bisa
menghasilkan produk yang lebih banyak dan lebih berkualitas. Selanjutnya,
dengan adanya tumbuhan yang tumbuh dengan lebih baik akan membuat hewan-hewan
yang ada di sekitarnya juga berkembang dengan baik. Dengan ketersediaan makanan
yang melimpah tentunya membuat hewan-hewan tersebut dapat hidup dengan baik.
Dengan adanya perubahan struktur tanah tersebut baik hewan dan tumbuhan akan
beradaptasi dengan keadaan tersebut sehingga dapat tumbuh dengan baik. Hal ini
tentunya akan berdampak baik untuk ke depannya, dikarenakan dengan adanya
perubahan strukur tanah tersebut dapat dipastikan hasil pertanian maupun
perkebunan akan lebih baik. Selain itu akan muncul varietas-vrietas yang lebih
unggul daripada varietas yang ada sebelum peristiwa tersebut terjadi.
BAB
III
PENUTUP
a. KESIMPULAN
Ekosistem adalah kesatuan komunitas dengan lingkungannya yang
membentuk hubungan timbal balik. Ekosistem tersusun atas dua komponen utama,
yaitu komponen biotik dan komponen abiotik. Komponen biotik adalah komponen
ekosistem yang terdiri dari makhluk tak hidup atau benda mati. Komponen abiotik
adalah komponen ekosistem yang terdiri dari makhluk hidup yang meliputi
tumbuhan, hewan, dan manusia.
b. SARAN
Setiap makhluk hidup membutuhkan
lingkungan yang sehat sebagai tempat tinggal. Oleh karena itu, kita harus
menjaga kebersihan tempat lingkungan terutama disekitar tempat tinggal kita.
Jagalah kelestarian dan
keberlangsungan hidup makhluk hidup, karena makhluk hidup yang satu dengan yang
lainnya saling ketergantungan dan tidak dapat hidup sendiri.
DAFTAR
PUSTAKA
Anonim. 2007. Produktivitas Primer_Tinjauan
Pustaka.(pdf_file).
Campbell, N. A., J. B. Reece, L. G. Mitchell. 2002.
Biologi (terjemahan), Edisi
kelima Jilid3. Jakarta. Penerbit Erlangga.
Dewiki S. & S. Yuniati. 2005. Ilmu Alamiah Dasar.
Jakarta. Universitas Terbuka.
Kimball, J.W. (1989). Biologi, diterjemahkan oleh
H.S.S. Tjitrosomo & N.
Sugiri. Jakarta: Penerbit Erlangga.
Mcnaughton, S.J., L. L. Wolf. 1998. Ekologi Umum
(terjemahan), Edisi kedua.
Yogyakarta. Gadjah Mada University Press.
Resosudarmo , Sudjiran, Kartawinata, Kuswata,
Soegiarto & Apriliani. (1987).
Pengantar Ekologi. Jakarta: Remaja Karya.
Tim Penyusun. 2006. Ekologi Tumbuhan. Sumatera Utara:
Usu.












Komentar
Posting Komentar